Sekuel Baru Pesta Babi: Mama Yasinta, Rumor Jet Pribadi Pak Haji, dan Dugaan Intimidasi
Thu 4 Jun 2026 at 3:53pm
Yasinta Moiwend didampingi kuasa hukumnya, TS Hamonangan Daulay, saat mendatangi Polda Metro Jaya (29/05). (Foto: Viva.co.id)
Saat ABC Indonesia menerbitkan laporan tentang film 'Pesta Babi' bulan lalu, dokumenter berdurasi 90 menit itu masih tayang melalui layar nonton bareng (nobar) dan diskusi swadaya warga.
Setelah ditonton luring di hampir 2.000 titik di Indonesia dan mancanegara, 'Pesta Babi' resmi dirilis di dunia maya pada 22 Mei lalu.
Hanya 14 hari semenjak rilis, 'Pesta Babi' sudah ditonton lebih dari 13 juta kali di kanal YouTube JubiTV, media berbasis di Papua, yang juga salah satu kolaborator produksi film ini, selain Greenpeace Indonesia, Watchdoc, Koperasi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan LBH Papua Merauke.
Di tengah tingginya antusiasme publik pada dokumenter ini, publik digegerkan oleh pengakuan salah satu tokoh 'Pesta Babi': Yasinta Moiwend, atau yang biasa dipanggil Mama Yasinta.
Yasinta adalah petani sayur, perempuan dari suku Marind yang tinggal di Distrik Ilwayab di Merauke, Papua.
'Pesta Babi' merekam Yasinta sebagai tokoh yang menolak Proyek Strategis Nasional (PSN), setelah proyek itu merampas hutan dan rawa yang menjadi sumber pangan dan ekonominya.
Akhir pekan lalu, Yasinta melaporkan sutradara 'Pesta Babi', Dandhy Dwi Laksono, dan John Teddy Wakum, direktur LBH Papua Merauke ke Polda Metro Jaya, menggunakan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi.
"Mama Sinta melaporkan tentang adanya penipuan ataupun pengambilan data pribadi," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto kepada wartawan Selasa kemarin (02/06).
Yasinta Moiwend saat mendatangi Polda Metro Jaya bersama dengan pengacaranya. (Foto: Detik.com, Kurniawan)
"Tadi kami koordinasikan dengan Ditreskrimum, sudah menerima laporan polisi, artinya bagi pelapor, saksi-saksi, serta barang bukti akan didalami," tambahnya.
"Tapi nanti akan didalami dari locus delicti-nya ... jika terjadi di luar locus delicti-nya wilayah Polda Metro, pasti Polda Metro akan berkoordinasi dengan Bareskrim Polri, dengan Mabes Polri, ataupun wilayah hukum Polda di mana terjadi peristiwa pidananya," sambungnya.
Pekan lalu (29/05), saat mendatangi Polda Metro Jaya, Yasinta mengaku keberatan wajahnya ditampilkan dalam film 'Pesta Babi' dan meminta agar pemutaran film itu "dihentikan."
Sekuel baru 'Pesta Babi': Mama Yasinta
Laporan polisi Mama Yasinta adalah puncak dari sikapnya yang dianggap banyak pihak berbalik 180 derajat dari apa yang bisa ditonton di 'Pesta Babi'.
Jika dalam dokumenter itu Yasinta lantang menolak PSN, pada 23 Mei lalu beredar rekaman video yang malah menyatakan dukungannya pada PSN.
Ia juga mengaku tidak memberi izin dirinya diabadikan dalam dokumenter itu.
"Saya kaget waktu di Jayapura mereka putar, kok saya ditampilkan ke depan, apakah saya ini boneka atau ukiran asmat yang ditampilkan tanpa sepengetahuan saya? kata Yasinta dalam rekaman tersebut.
"Jadi saya kecewa sampai sekarang ini," ujarnya.
Yasinta Moiwend kini melaporkan sutradara film dokumenter 'Pesta Babi'. (Foto: Tangkapan layar 'Pesta Babi', YouTube Redaksi Jubi )
Dalam potongan rekaman video yang lain, Yasinta bahkan meminta maaf dan mengatakan yang dilakukannya bukan kemauannya dan ia hanya "dimanfaatkan dan diajak oleh orang-orang LBH."
"Jadi saya mau cari kerja di perusahaan, ... dan rumah saya, saya ingin mau direhab karena rumah saya sudah tidak layak lagi, yang ketiga, [saya mau] anak saya, dia butuh pekerjaan juga, itu yang saya harapkan ke depan," tuturnya Mama Yasinta.
"Jadi Mama harap ke depan mohon dibantu, saya tetap di pihak perusahaan sekarang, tidak seperti dulu lagi, karena dulu itu saya dimanfaatkan."
Sikap Yasinta ini menuai pertanyaan publik, termasuk di jejaring sosial, sebagian besar menduga perubahan sikapnya disebabkan intimidasi yang ia terima.
Akun @kang_afdhal di platform Thread menulis "gw yakin itu video intimidasi aparat."
"Antara intimidasi atau disuap, fakta di lapangan berbicara langsung gimana rusaknya alam Papua sekarang, kata @rico_ap09.
Loading...Dari rumor jet pribadi sampai dugaan intimidasi
Beberapa hari sebelum Yasinta terlihat mendatangi Polda Metro Jaya di Jakarta, keluarganya di Papua sudah lebih dulu was-was.
Ini karena keluarga sudah kehilangan kontak sejak 24 Mei, atau sehari setelah video pertama Mama Yasinta yang berbalik sikap beredar luas.
Esau dan keluarga meminta orang-orang yang membawa Mama Yasinta ke Jakarta untuk memulangkannya. (Foto: Koleksi pribadi)
"Kami kaget saat [melihat video] itu, Mama bisa berbalik arah," kata Esau Maguo Kahol, keponakan Yasinta, kepada ABC Indonesia.
"Jadi seperti panas tiga tahun, dihapus oleh hujan sehari. Sebagai keluarga, setelah nonton itu saya tidak bisa tidur."
Esau adalah sosok yang berbicara dalam video yang dirilis keluarga dan beredar viral awal pekan ini.
Dalam video itu ia menjelaskan jika Yasinta berangkat dari Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, tanpa sepengetahuan keluarga.
Ia mengatakan Yasinta sempat bermalam di pos TNI sebelum "diselundupkan" keluar kampung bersama aparat militer dan pejabat distrik yang bertugas di PSN.
Esau juga menerima informasi kalau Yasinta diterbangkan menggunakan pesawat jet pribadi pada Senin pekan lalu (25/05).
Keluarga menyebut kepergian Mama Yasinta tanpa sepengetahuan keluarga dan meminta pihak-pihak yang membanya je Jakarta untuk memulangkan Mama Yasinta. (Foto: Tangkapan layar YouTube Redaksi JubiTV)
Ini sama dengan dugaan yang disampaikan oleh salah satu staf LBH Merauke Papua, Arnoldus Anda.
"Mama Yasinta Moiwend dijemput dengan private jet milik PT Jhonlin Group di Wanam dan dikawal oleh Ibu Kepala Distrik Ilwayab, Cristin Rumlus, dan komandan Mandala, berangkat ke Merauke dan langsung ke Jakarta," kata Arnoldus seperti yang dikutip oleh BeritaSatu.com.
PT Jhonlin Group adalah perusahaan yang diketahui milik konglomerat Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Dalam film 'Pesta Babi', Haji Isam disebut terlibat dalam proyek Food Estate melalui Jhonlin Group dengan membuka jutaan hektare hutan adat di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi Papua.
Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam saat menerima Bintang Mahaputra Utama Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Tangkapan layar Biro Pers Presiden via 'Pesta Babi')
ABC Indonesia telah menghubungi Christine Rumlus, dan PT Jhonlin Group untuk memberikan tanggapan, tetapi sampai artikel ini ditayangkan belum mendapat jawaban.
"Kami merasa kehilangan Mama," kata Esau di video itu dengan suara bergetar.
"Sampai saat sekarang ini kondisi Mama kami belum tahu, apakah beliau baik-baik di Jakarta atau diintimidasi segala macam," tambahnya, seraya meminta pihak-pihak yang membawa Yasinta ke Jakarta untuk membawanya pulang.
'Saya yakin dan percaya, Mama bohong'
Mama Yasinta membantah dugaan keluarga soal intimidasi dan difasilitasi perusahaan PSN. (Foto: Tangkapan layar IG @inilah_com)
Hanya sehari berselang, Yasinta kembali muncul lewat video di dunia maya.
"Itu tidak benar. Saya naik pesawat biasa dengan penumpang, saya tidak naik kapal ke Merauke atau ke Boven Digoel dengan pesawat helikopternya Haji Isam, itu tidak ada, itu omong kosong ... dan saya belum pernah ketemu dengan Haji Isam."
"Saya sendiri yang datang, tidak ada orang yang ajak saya. TNI tidak jemput saya, tidak ada intimidasi, kenapa kalian yang repot dengan saya?"
Tapi Esau tidak bisa begitu saja menerima penjelasan Yasinta.
"Saya yakin dan percaya, Mama bohong. Kami ini orang kekurangan, kami dari masyarakat kampung ... tidak sekilat itu kami bisa punya uang berangkat dari kampung menggunakan pesawat," tutur Esau kepada jurnalis ABC Indonesia, Hellena Souisa.
"Mama punya uang dari mana? Uang pesawat, uang transportasi, uang penginapan di Jakarta, uang untuk lawyer-nya?"
Yasinta Moiwend (berbaju merah) saat peluncuran perdana film 'Pesta Babi' di Jayapura. (Foto: Redaksi Jubi)
"[Bagaimana] Mama bisa kenal secepat itu dengan lawyernya ... hari Senin sampai Jumat, sudah ada pengacaranya dan bisa masuk sampai ke Polda Metro Jaya?"
Esau juga menyayangkan keputusan Yasinta melaporkan Dandhy Laksono dan Teddy Wakum, karena menurutnya proses perekaman aktivitas Yasinta ini sudah terjadi selama tiga tahun.
Selama 'Pesta Babi' beredar, menurut Esau, Yasinta juga tidak pernah menyampaikan keluhan apa pun pada keluarga, misalnya jika ia merasa keberatan "dipampangkan dalam Pesta Babi" dan "tidak mendapatkan haknya."
Ia menyebut bagaimana Mama Yasinta "ikut meresmikan" penayangan perdana 'Pesta Babi' di Jayapura.
"Mama ikut juga nonton ya, dan tidak mungkinlah kalau Mama bilang ... 'tidak seizin saya' dan Mama sudah tiga tahun ini mengikuti [proses] itu."
"Kalau Mama bantah bahwa 'tidak sepengetahuan saya', pertanyaannya adalah kenapa Mama juga ikut peluncuran film Pesta Babi itu di Jayapura?"
Merasa mengenal Yasinta yang memegang teguh prinsip dan perjuangannya, Esau tetap meyakini "ada intimidasi dan penekanan secara psikologis" yang membuat ia berbalik arah.
"Mama boleh berkata di mulut lain, tetapi di dalam hati itu menentang hatinya, menentang jiwanya sendiri, ... kami lihat bahwa itu sudah terstruktur untuk [Mama] membantah [isi] dalam 'Pesta Babi' itu."
Yasinta Moiwend menerima penghargaan SK Trimurti Award 2025 dari Aliansi Jurnalis Independen. (Foto: Papua Daily)
Sebelum 'Pesta Babi', Yasinta sudah dikenal sebagai pejuang hak adat Papua.
Ia tercatat pernah menerima penghargaan S.K. Trimurti Award 2025 dari Aliansi Jurnalis Independen karena memperjuangkan hak masyarakat adat dalam mempertahankan tanah ulayatnya dari proyek 'food estate'.
'Mereka sedang melecehkan akal sehat kita'
Sejak namanya disebut sebagai terlapor, sutradara 'Pesta Babi', Dandhy Laksono, belum banyak berkomentar.
Dandhy Laksono perlu setidaknya dua tahun proses merekam keseharian sejumlah tokoh untuk dokumenter 'Pesta Babi'. (Foto: Koleksi pribadi )
Ia memilih merespon melalui unggahan teks di media sosialnya, sebagai bentuk respon yang serupa ketika pertama kali Yasinta berbalik mendukung proyek strategis nasional di videonya.
Saat itu, Dandhy meminta publik tidak menghakimi Yasinta dan menghormati apa pun pilihannya.
Kini ia menulis soal perbedaan kejelasan identitas antara mereka yang mendukung versus yang membawa Yasinta ke Jakarta.
"Yang tampak jelas adalah siasat agar kita pelan-pelan kehilangan fokus pada persoalan kolonialisme di Papua."
"Di sinilah, mereka sedang melecehkan akal sehat kita semua," tulis Dandhy mengakhiri unggahannya.
Tak seperti Yasinta, keponakannya, Esau, berterima kasih kepada Dandhy dan Teddy karena telah mengangkat suara Papua dalam film dokumenter.
"Saya mengucapkan terima kasih dan berdoa kepada Tuhan supaya mereka ini dilindungi mendapatkan kebenaran dari Tuhan, supaya terungkap semua yang terjadi di tanah Papua."
Yasinta Moiwend yang menyeret 'Pesta Babi' ke ranah hukum telah membawa film ini ke sekuel baru di luar layar.
Ini akan menjadi 'pesta' yang panjang, karena keluarga Yasinta juga tak tinggal diam dan telah berkoordinasi dengan sejumlah organisasi, termasuk Komnas HAM, LPSK, dan Majelis Rakyat Papua.
"Intinya kami berusaha untuk mama harus kembali ke keluarga. Walaupun kami ini ada hidup kurang-kurang, tapi kami anggap Mama itu abadi bagi kami," kata Esau Maguo Kahol, keponakan Mama Yasinta,
Loading...