Nilai Tukar Rupiah Makin Anjlok, Mahasiswa Indonesia di Australia Merasakan Dampaknya
Tue 2 Jun 2026 at 4:07pm
Mahasiswa internasional di Australia, termasuk asal Indonesia, harus menghadapi biaya kebutuhan sehari-hari yang meningkat. (ABC News: Lucas Hill)
Rangkuman:
Sejumlah mahasiswa asal Indonesia di Australia mengaku terdampak dengan semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Australia.
Hal ini semakin memberikan tekanan finansial, terutama saat semakin mahalnya harga kebutuhan pokok dan biaya sewa tempat tinggal di Australia.
Mereka yang studi di Australia dengan beasiswa juga merasakan dampaknya meski tunjangan mereka sudah dinaikkan.
Mahasiswa asal Indonesia di Australia mengaku terdampak dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Australia, terutama di saat semakin mahalnya harga kebutuhan pokok dan biaya sewa tempat tinggal di Australia.
Seperti yang diceritakan Akmal Ismail Zain, mahasiswa S1 Ilmu Farmasi di Monash University, yang masih bergantung pada kiriman uang dari orang tuanya di Indonesia.
"Karena saya masih pakai uang dari orang tua, yang saya perhatikan ... untuk living cost per bulannya sudah mulai naik sejuta sampai dua juta dari awal Februari sampai sekarang," katanya.
"Jadi inflasinya lumayan terasa, padahal baru ... empat bulanan [tinggal di Australia]."
Mahasiswa asal Indonesia Akmal Ismail Zain yang masih menerima kiriman uang dari orang tua di Indonesia merasakan dampak melemahnya rupiah. (Koleksi pribadi)
Nilai tukar rupiah terus melemah, mencapai angka Rp17.862 per satu dolar Amerika Serikat (US$), serta Rp12.791 terhadap satu dolar Australia (AU$), pada hari Selasa ini (2/06).
Akmal mengatakan pengeluaran terbesar sebagai mahasiswa internasional di Australia adalah uang kuliah diikuti harga sewa kamar.
Untuk bisa menambah uangnya di Australia, Akmal mengatakan ia berencana untuk segera mencari kerja paruh waktu, yang bisa dilakukannya ketika sedang tidak ada kuliah atau tugas.
"Kita enggak tahu nih, rupiah bakal menguat atau enggak," ujarnya.
"Lebih baik saya bergerak dari sekarang dibanding menunggu ketidakpastian."
Tekanan finansial yang dialami mahasiswa asal Indonesia yang biayanya ditanggung sendiri sudah diakui oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia.
"Kalau menurut saya pribadi [anjloknya rupiah] cukup berdampak ya, karena nilai tukarnya itu cukup drastis," kata Muhammad Hadiyan Ridho, Ketua PPI Australia.
"Mungkin sebagai gambaran, dari saya sampai Australia pertama kali ... di tahun lalu di Februari, nilai tukar rupiah itu ke Australian dollar itu kan ... Rp10.500, sekarang itu sudah Rp12.700, hampir Rp13.000," ujarnya.
"Naiknya tuh kurang lebih kan hampir 20 persen."
Ridho mengatakan sejumlah mahasiswa asal Indonesia yang paling terdampak dari tekanan finansial di Australia adalah mereka yang memiliki kendaraan karena kebutuhan. Hal ini terkait dengan masih naiknya harga bahan bakar di Australia.
'Tiba-tiba tabungan enggak ada'
Stephanie Permata Putri, yang akrab disapa Tata, juga sudah mulai merasakan imbas kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari di Australia.
"Khususnya dari harga makanan sama sewa," ujar mahasiswi asal Yogyakarta yang menerima beasiswa untuk studi di Australia.
"Lumayan terasa sih kalau misalkan, setidaknya, sehari sekali beli makanan di luar, terasa uang sakunya langsung habis."
Tata mengatakan harga kebutuhan pokok di Australia semakin mahal. (Koleksi pribadi)
Mahasiswi S2 Administrasi Bisnis di Adelaide University tersebut mengaku baru merasakan tekanan biaya ini belakangan ini.
"Sejujurnya, waktu awal datang ke Adelaide enggak terasa, jadi memang pengeluarannya banyak, tapi enggak sampai habis," kata Tata yang tiba pada Juli 2025.
"Kira-kira akhir tahun lalu, atau awal tahun ini, pengeluaran kayak biasa, tapi tiba-tiba tabungan enggak ada."
Tekanan biaya hidup dirasakan oleh seluruh rumah tangga Australia, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda, menurut Biro Statistik Australia (ABS).
Indeks Biaya Hidup terbaru dari ABS mencatat kenaikan biaya tahunan antara 2,3 dan 4,2 persen hingga Desember.
Menurut laporan terbaru, sekitar 36 persen warga Australia mengakses layanan penyedia pangan untuk pertama kalinya.
Warga Australia menyadari tagihan belanjaan mereka membengkak dalam beberapa tahun terakhir. (ABC News: Courtney Withers)
Sebagai penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Australia Awards Scholarship (AAS), Tata menerima tunjangan dari pemerintah Indonesia dan Australia.
Ia mengatakan biaya kuliahnya ditanggung oleh pemerintah Indonesia melalui skema LPDP, sementara biaya hidup ditanggung pemerintah Australia melalui AAS.
Sejak 1 Januari 2026, Tata mengatakan menerima tambahan uang saku sebesar lima persen dari Pemerintah Australia, untuk membantu meringankan biaya sehari-harinya.
Dengan kenaikan ini, ia menerima uang sekitar hampir A$1,400 setiap dua pekan.
"Menurut saya, [tambahan uang saku ini] membantu biar ada sedikit kelegaan untuk expense-nya," kata Tata.
Tapi jumlahnya tidak membuat ia bisa lebih banyak membeli barang dan kebutuhannya.
Berbeda dengan Tata, Ahimsa Wardah Swadeshi, penerima beasiswa LPDP di University of Melbourne, tidak menerima tambahan uang saku.
Ahimsa mengatakan belum begitu merasakan kenaikan biaya kebutuhan pokok.
Namun Ahimsa merasakan tekanan harga sewa setelah dirinya memutuskan tinggal sendiri di sebuah studio apartemen, setelah ia pindah dari rumah yang ditinggalinya bersama orang lain atau istilahnya 'shared house'.
"Terutama karena biaya sewa dan listrik naik, karena enggak ada teman sharing juga," ujar mahasiswi S2 Jurnalistik tersebut.
Ahimsa Wardah Swadeshi berusaha menghemat pengeluarannya untuk makan. (Koleksi pribadi)
Ahimsa mengatakan masih bisa bertahan dengan uang yang diberikan LPDP.
"Kalau misalnya kondisi [perang] berlanjut dan lebih buruk, saya rasa bisa jadi perlu penyesuaian dalam bentuk stipend-nya dinaikkan," katanya.
"Atau malah kemudahan dalam biaya tertentu [oleh Pemerintah Australia], jadi disesuaikan."
Sejumlah cara untuk berhemat
Situasi geopolitik dan tekanan finansial saat ini memaksa mahasiswa internasional di Australia untuk bisa berhemat.
Tata mengaku penghematan pengeluaran dimulai dengan mengurangi membeli makanan jadi di luar.
"Jadi kalau enggak sempat masak, setidaknya cuma beli makan sehari sekali," ujar Tata, yang menambahkan makanan ini harus bisa cukup untuk dua kali makan.
Ia juga mengaku mengurangi kebiasaan belanja kebutuhan di luar kebutuhan pokok.
"Saya banyak mengerem [pengeluaran] dan menunggu diskon," ujarnya.
Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia Muhammad Hadiyan Ridho mengatakan anjloknya rupiah "cukup berdampak" pada mahasiswa yang masih menerima kiriman uang dari Indonesia. (Koleksi pribadi)
Sedangkan Ahimsa mengatakan setiap kali makan di luar, ia mengatakan berusaha untuk memesan menu yang bisa dikonsumsi lebih dari sekali.
Ia memberikan contoh nasi lemak dan ayam kari, yang lauknya bisa disimpan untuk makanan selanjutnya. Atau mi kuah, yang jika kuahnya bersisa akan ia gunakan untuk hidangan lainnya.
"Semakin banyak masak, semakin banyak menahan diri untuk tidak jajan di luar," ujarnya.
Penghematan juga dilakukan mahasiswa internasional dengan mengurangi pengeluaran untuk bersosialisasi, meski kegiatan di luar akademis penting bagi kesehatan mental mereka.
"Pengeluaran hanging out with my friends itu agak saya kurangi biar saya setidaknya ada simpanan [uang]," ujar Akmal.
Mahasiswa internasional juga dituntut untuk lebih kreatif dalam berhemat, seperti yang dilakukan Akmal lewat program 'Buy One Get Two' atau 'Bring Your Friends' saat membeli makanan di luar atau mengejar diskon di supermarket.