Petani dan Nelayan Menanggapi Pernyataan Presiden Prabowo Soal Rakyat Desa 'Enggak Pakai Dolar'
Tue 26 May 2026 at 2:56pm
Prabowo Subianto ketika berbicara di acara peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di wilayah Jawa Timur (BPMI Setpres)
Presiden Prabowo Subianto mengatakan warga desa "enggak pakai dolar" sehingga ekonomi Indonesia masih "aman", khususnya di bidang pangan dan energi.
Namun sejumlah petani dan nelayan di desa mengatakan mereka justru turut merasakan dampak dari semakin melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar... yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri, hayo siapa ini?" ujar Prabowo.
Ia mengatakan hal tersebut saat acara peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Jawa Timur, awal pertengahan bulan Mei lalu.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika berada di titik Rp17.783, menurut kurs hari Selasa ini (26/05).
Fahrur Irzan, petani kentang di Dieng, Jawa Tengah, mengatakan pernyataan presiden Prabowo tersebut "tidak bijaksana", karena kondisi mata uang "memiliki efek domino" bagi mereka.
"Pemerintah jangan terlalu banyak mengambil kebijakan atau pernyataan populis ... [untuk] hanya sekedar menenangkan masyarakat," katanya.
Fahrur Irzan yang bekerja sebagai petani mengatakan pernyataan pemerintah tidak bijak. (Koleksi pribadi)
Menurutnya saat ini warga desa semakin kritis dan mereka tahu dampak dari nilai dolar yang semakin menguat.
Irzan mengatakan sejak konflik di Timur Tengah berlangsung, ia sudah mengantisipasi harga pestisida, pupuk, dan bahan bakar akan naik.
Namun yang paling ia khawatirkan adalah ketersediaan solar menjelang musim kemarau, khususnya untuk membekali mesin saat mengairi tanaman, atau irigasi.
Irzan mengatakan tekanan ekonomi dialami sejumlah petani karena pengeluaran mereka yang terus bertambah, tapi permintaan sayuran malah menurun.
"Daya beli masyarakat di kota jadi turun, akhirnya tetap rugi, tidak mencapai target," katanya.
"Bahkan untuk breakeven point [balik modal] pun mereka sangat butuh effort [usaha]."
Irzan juga mengomentari pernyataan Presiden Prabowo yang mengatakan "senyum" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi indikator stabilitas keuangan negara.
"Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, enggak usah kau khawatir itu," ujar Prabowo sebelum menyebut tentang dolar.
Petani sudah mengalami kenaikan harga bahan pertanian. (Reuters: Yusuf Ahmad)
Menurut Irzan, kondisi yang dialami banyak petani di pedesaan saat ini bertolak belakang dengan pernyataan pemerintah yang beredar.
"Saya saja yang di desa sudah cemas ... saya sudah memikirkan bagaimana cara tetap menjaga ketahanan pangan," katanya.
"Kalau saya kan di desa masih bisa lah ngambil sayuran di pinggir sungai, atau pun di pinggir kebun."
Irzan mengatakan pemerintah harusnya mengambil langkah yang lebih konkrit saat keuangan negara sedang berada di "titik krisis", bukan sekedar mengeluarkan pernyataan.
"Harapannya pemerintah tetap memperbaiki diri, dalam arti tetap konsentrasi memikirkan atau mengambil kebijakan supaya rupiah lebih menguat kembali," ujarnya.
"Kalau rupiah enggak kunjung membaik, saya kurang tahu nih ke depannya."
Nasib nelayan di tengah penguatan dolar
Nilawati dari Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) di Medan mengatakan saat nilai dolar Amerika Serikat menguat, nelayan harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk melaut, sementara penghasilannya tetap sama.
Pengeluaran mereka yang bertambah adalah bahan bakar minyak dan plastik es batu, untuk mengawetkan hasil tangkapan.
"Karena harga plastik naik, yang batu es itu, tadinya Rp1.000, sekarang harganya Rp2.000, pengeluaran bekal nelayan bertambah," katanya.
"Harga jual kita masih standar, masih harga yang lama sebelum perang."
Nilawati mengatakan para nelayan harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk modal melaut. (Koleksi pribadi)
Nilawati mengatakan ia hanya bisa "tersenyum" setelah mendengar pernyataan presiden Prabowo, karena menurutnya pelemahan dolar tetap dirasakan warga di desa.
"Dampaknya kan besar ke masyarakat ... yang paling terdampak, ya kita duluan, [karena] mata pencaharian kita untuk hari ini ya untuk hari ini."
Selain biaya melaut, Nilawati mengatakan buruh nelayan perempuan, yang juga adalah ibu rumah tangga, mengeluhkan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, seperti sembako.
"Contohnya minyak makan, yang dari [harga] Rp14.000, menjadi Rp21.000, naiknya mencapai Rp7.000," ujar Nilawati.
"Beras juga begitu, naiknya sekitar Rp2.000 sampai Rp3.000 dari harga sebelum terjadinya perang ini."
Sementara harga jual produk laut di pasar tetap sama seperti sebelum perang, karena "banyaknya saingan", jelas Nilawati.
"[Harga] bahan pokok melonjak, sementara hasil tangkapan mereka menurun," katanya.
Bidang yang 'lebih sensitif' terhadap dolar
Menurut Dr Eddy Renaldi, Kepala Program Studi Agrobisnis di Universitas Padjajaran, seberapa langsung dampak dari anjloknya nilai tukar rupiah tergantung pada industri.
Eddy mengatakan penguatan dolar Amerika Serikat akan berpengaruh besar bagi produksi pestisida, pupuk, dan holtikultura.
Ia mengatakan ini karena salah satu kandungan pupuk, yaitu urea, sebagian besar masih diimpor dari Australia, Rusia, dan China, yang artinya transaksinya menggunakan dolar.
Eddy Renaldi mengatakan Indonesia harus memperkuat kemandirian pangan. (Koleksi pribadi)
Namun, pupuk ini masih disubsidi oleh pemerintah Indonesia, sehingga harganya tidak tinggi ketika sampai ke petani.
Indonesia masih memiliki amonium fosfat, atau NH3, namun menurutnya "tidak cukup untuk keperluan domestik", sehingga tetap harus impor.
Sementara itu, ia mengatakan sebagian besar bahan baku atau bahan aktif pestisida masih diimpor, sebelum diproduksi oleh pabrik-pabrik di Indonesia.
"Jadi, kalau dolarnya menguat atau rupiahnya melemah, ini akan pengaruh ke biaya produksi untuk bikin pestisida," ujarnya.
"Karena Indonesia menganut ekonomi stabilitas, pilihannya kandungan pestisidanya dikurangi biar harganya tetap ... jangan sampai [rakyat] menjerit."
Ia mengatakan petani holtikultura akan "lebih sensitif" terhadap kondisi dolar ini, karena sebagian besar benih sayur dan buah-buahan masih impor.
Namun menurutnya, nelayan merupakan profesi yang "sensitif" terhadap naik atau turunnya dolar, karena membutuhkan BBM untuk mengoperasikan perahu.
"Nelayan yang paling sensitif, karena dia menangkap, bukan menanam," ujarnya.
"Jadi dia sangat, sangat sensitif terhadap harga BBM, karena langsung ke BBM-nya."
Eddy mengatakan nelayan yang tidak memiliki perahu akan lebih merasakan dampaknya, karena harus menyewa.
Menurutnya, untuk menghindarkan sektor pertanian dan perikanan dari dampak negatif penguatan dolar Amerika Serikat, Indonesia harus memperkuat kemandirian pangan di dalam negeri.
"Kalau memungkinkan, kurangi ketergantungan terhadap impor," kata Dr Eddy.
"Perlu teknologi-teknologi tertentu yang bisa mengurangi ketergantungan sarana produksi terhadap impor, ini bagi produsen."